Senin, 03 November 2025

Sosok Sabrina Alatas di Dunia Kuliner: Dari Kemang ke Paris, hingga Mencoba Bangkit di Tengah Pandemi

 

BERITA,NESIA  Dari Dapur Kemang ke Panggung Kuliner Internasional
Sabrina Alatas, yang akrab disapa “Chef Sasha”, merupakan salah satu sosok chef muda Indonesia yang mulai menarik perhatian publik.

Berikut adalah rangkaian perjalanan dan sorotan terhadap kariernya di dunia kuliner:

1. Latar Belakang & Pendidikan

Sabrina tumbuh dalam keluarga yang sudah dikenal di publik — ayahnya adalah Jay Alatas, seorang pengusaha dan penyanyi jazz.
 Ia semula memiliki cita-cita di bidang arsitektur/desain interior, namun akhirnya menemukan passion yang mendalam di dapur.
Pendidikan kuliner: ia menempuh studi di Le Cordon Bleu, Paris, dalam bidang cuisine & pastry selama sekitar 1,5 tahun

2. Awal Karier di Dunia Kuliner


Karier profesional Sabrina dimulai sejak sekitar tahun 2014
Ia sempat bekerja di salah satu restoran di kawasan Kemang Village, Jakarta — yaitu restoran dengan konsep “Colonial Cuisine & Molecular” — sebagai bagian dari proses belajar dan mengambil pengalaman awal
Pengalaman di luar negeri dan di dapur profesional memberikan fondasi bagi dirinya untuk memahami standar internasional dan kombinasi citarasa Eropa + Asia

3. Mendirikan Brand & Usaha Kuliner Pribadi

Setelah kembali ke Indonesia, Sabrina mengambil peran penting di beberapa tempat kuliner — misalnya sebagai Head Chef atau posisi strategis lainnya.
kemudian ia mendirikan usaha kulinernya sendiri: Manje Restaurant — sebuah restoran yang lahir dari visi Sabrina untuk menggabungkan kualitas tinggi serta konsep yang lebih kasual.
Melalui Manje dan proyek-lainnya, ia juga meluncurkan proyek pribadi bernama The Grumpy Chef, yang menawarkan pengalaman dining lebih intim dan personal.

4. Tantangan & Bangkit di Tengah Pandemi

Seperti banyak pelaku usaha kuliner lainnya, usaha Sabrina sempat terpukul oleh pandemi. Ia menyebut bahwa “sales gue sempat drop 80 persen”.
Namun ia tidak menyerah: ia menyesuaikan konsep operasional, misalnya dengan menyajikan menu yang bisa diproses/diakses dari rumah atau mengambil model bisnis baru agar tetap relevan dan bertahan
Hal ini menunjukkan kapasitasnya sebagai tidak hanya chef yang mahir memasak, tetapi juga sebagai entrepreneur yang mampu menyesuaikan dengan kondisi eksternal.

5. Gaya Kuliner & Filosofi


Sabrina dikenal mengusung gaya “Eropa progresif dan pan-Asia” dalam sajian kulinernya, memungkinkan kolaborasi rasa dan teknik yang kreatif.
Hobi travelling juga menjadi bagian dari inspirasinya: ia sering mengeksplorasi tradisi kuliner di berbagai tempat, sehingga menciptakan bahan baku ide bagi menu-baruny

6. Relevansi & Inspirasi

Sebagai chef muda wanita di industri yang sering didominasi laki-laki, Sabrina menjadi simbol bahwa talenta Indonesia bisa menjangkau ranah internasional dan tidak kalah dari kompetitor global.
Perjalanan dari jalur non-kuliner (arsitektur/desain) lalu ke dapur profesional dan bisnis sendiri menggambarkan fleksibilitas karier modern: “bukan hanya satu jalan”.
Ketangguhannya menghadapi tantangan pandemi memberi pelajaran penting bagi pelaku bisnis kuliner bahwa adaptasi dan inovasi adalah kunci.

🎙 Wawancara & Filosofi Kuliner

Dalam wawancara, Sabrina menyatakan bahwa bagi dirinya “makanan bisa menjadi sarana menebarkan cinta” karena ia suka mengumpulkan banyak orang di satu meja untuk berbagi kebahagiaan.
Ia mengatakan bahwa pada saat membuka Manje Restaurant, ia ingin menjadikan suasana restoran sebagai tempat yang nyaman, kasual namun tetap punya kualitas rasa dan estetika tinggi.
Gaya kulinernya mengkombinasikan pengaruh Eropa dan Asia — ia sempat mengenyam pendidikan di Le Cordon Bleu Paris dalam cuisine dan pastry.


🍽 Usaha & Konsep Restoran “Manje”

Manje Restaurant dirintis oleh Sabrina sebagai usaha yang menggabungkan gaya “kasual dengan sentuhan premium”

Lokasi awalnya di kawasan Pejaten (Jakarta) kemudian berkembang ke cabang lain, yang menunjukkan bahwa ia tidak hanya mengandalkan restoran satu lokasi saja.

Sabrina secara aktif turun tangan dalam merancang menu dan mengawasi kualitas dapur, bukan hanya sebagai pemilik tapi juga chef yang “turun langsung”.

📍 Menu-Andalan & Citarasa

Walaupun detail menu lengkap tidak semua dipublikasikan, berikut beberapa highlight yang bisa disebut:

Menu “bao” dan bowls menjadi salah satu identitas dari Manje Restaurant — konsep yang lebih ringan dan kasual dibanding fine-dining tradisional.
Gaya rasa: gabungan teknik Eropa dan bahan/bumbu Asia, yang berarti misalnya penggunaan teknik memasak ala Prancis dengan bahan lokal Indonesia atau Asia Tenggara. (dikutip dari wawancara/ artikel)
Filosofi penyajian: Sabrina menganggap bahwa tampilan, komposisi, dan “cerita” dari hidangan penting — bukan hanya rasa, tetapi pengalaman makan secara keseluruhan.


Kesimpulan

Sabrina Alatas adalah contoh menarik dari generasi chef Indonesia yang menggabungkan pendidikan internasional, pengalaman lapangan, visi bisnis, dan kemampuan adaptasi. Dari dapur di Kemang, ke sekolah kuliner di Paris, hingga mendirikan usaha sendiri dan menghadapi krisis – perjalanan ini menunjukkan bahwa sukses di dunia kuliner bukan hanya soal bakat memasak, tetapi juga soal strategi, ketahanan, dan kreativitas.





































Tidak ada komentar:

Posting Komentar