BERITA,NESIA
Aksi teatrikal yang menyita perhatian publik pada Minggu pagi ini rupanya strategi kreatif untuk mempromosikan film Ozora garapan Anggy Umbara.Jakarta Warga yang tengah menikmati Car Free Day di Kawasan Sudirman, Jakarta, dikejutkan kehadiran objek menyerupai Jeep Rubicon yang melaju membelah kerumunan massa. Mobil itu adalah replika yang secara khusus dibuat untuk aksi teaterikal dan diberi nama unik "Bullycon".
Di sisi bodi mobil replika terpampang tulisan berbunyi "Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel". Aksi teatrikal yang menyita perhatian publik pada Minggu pagi ini rupanya strategi kreatif untuk mempromosikan film Ozora garapan rumah produksi Umbara Brothers Film.
Sang sutradara, Anggy Umbara, yang turut hadir langsung di memberikan penjelasan mengenai alasan filosofis di balik pemilihan konsep arak-arakan yang cukup provokatif tersebut.
“Kalau dulu mobil ini bisa bebas bergerak tanpa konsekuensi, sekarang biar publik yang melihatnya langsung," kata Anggy Umbara di kawasan Sudirman Jakarta Pusat, Minggu (30/11/2025).
Anggy ingin mengajak masyarakat kembali mengingat peristiwa kelam yang sempat menghebohkan. Anggy pun menekankan pentingnya menjaga ingatan kolektif masyarakat agar kasus-kasus ketidakadilan serupa tidak hilang begitu tanpa ada pembelajaran berarti.
"Ada hal-hal yang tidak boleh kita lupakan begitu saja,” ujarnya.
Alasan Bawa Replika Mobil
Kreativitas dalam mempromosikan karya seni visual ini tetap mengedepankan aspek keamanan dan kenyamanan bagi para pengunjung yang sedang beraktivitas santai di area CFD. Anggy memastikan bahwa kejutan visual yang dihadirkan lewat replika kendaraan tersebut memang dirancang khusus untuk menarik atensi massa tanpa menimbulkan bahaya fisik sedikit pun.
“Kami bikin versi dummy-nya, Bullycon. Tetap ikonik, tapi aman dan bisa dibawa keliling," ucapnya.
Sampaikan Kritik Sosial
Di balik kemeriahan arak-arakan replika mobil mewah yang digotong tersebut, terselip kritik sosial yang sangat mendalam mengenai kondisi penegakan hukum dan fenomena di Indonesia. Sineas kondang ini menegaskan bahwa pesan moral tentang perlawanan terhadap ketidakadilan menjadi inti utama yang ingin disampaikan kepada khalayak ramai melalui film terbarunya.
"Ya yang penting pesannya sampai, ketidakadilan yang dibiarkan akan terus berulang,” tegas Anggy.
Membedah Fenomena Perundungan
Narasi yang dibangun Anggy dalam filmnya mencoba membedah fenomena perundungan atau bullying yang ternyata bukan sekadar persoalan gesekan sederhana antarindividu semata. Ia menyoroti tindakan kekerasan seringkali lahir dari sistem yang korup, arogansi aparat, pola asuh keluarga, hingga pihak-pihak berkuasa yang merasa memiliki imunitas dan tak tersentuh oleh jerat hukum.
Anggy berharap antusiasme warga di lokasi berlanjut hingga filmnya resmi tayang di layar lebar.
Film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 4 Desember 2025.
🎬 Latar & Konteks: Film dan Kampanye Sosial
Anggy Umbara bersama saudaranya, Umbara Brothers Film, sedang mempersiapkan film baru berjudul Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel — sebuah film yang diangkat dari kasus nyata, yakni penganiayaan terhadap Cristalino David Ozora. Film ini dijadwalkan tayang mulai 4 Desember 2025.
Menurut Anggy, film ini bukan sekadar hiburan — dia menyebutnya sebagai “gerakan moral”. Film ini dirancang untuk membuka kesadaran publik tentang penyalahgunaan kekuasaan, ketidakadilan, dan bentuk-bentuk bullying atau perundungan yang terjadi saat kekuasaan tak terkontrol.
🚨 Aksi Teatrikal di CFD: Replika Rubicon & Seruan Anti-Bullying
Pada Minggu, 30 November 2025 — saat CFD Sudirman di Jakarta — terjadi aksi dramatik bertajuk BULLYCON. Di tengah kerumunan warga yang sedang olahraga dan berkumpul, tiba-tiba muncul “mobil” mirip Rubicon. Banyak orang sempat panik.
Tapi mobil itu ternyata bukan kendaraan sungguhan: ia hanyalah struktur ringan, dibawa oleh belasan relawan sambil meneriakkan “STOP BULLYING!” berulang-ulang.
Di sisi “kendaraan” itu terpampang tulisan besar: “OZORA: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel.” Aksi ini sengaja dirancang untuk menghidupkan kembali simbol kontroversial — mobil Rubicon — yang sebelumnya identik dengan penyalahgunaan kekuasaan dan ketimpangan hukum dalam kasus real.
Anggy menjelaskan bahwa tujuan aksi tersebut adalah sebagai peringatan: agar publik tidak melupakan peristiwa masa lalu, dan menyadari bahwa “bullying” atau penindasan bisa datang dari struktur kekuasaan — bukan hanya antar-individu di lingkungan sosial.
🎯 Pesan & Makna Sosial dari Aksi + Film






