Penjaga Waktu dari Kota yang Hilang
SUARITOTO- Di ujung dunia yang tidak tercantum dalam peta mana pun, tersembunyi sebuah kota bernama Arkadira. Kota itu tidak terlihat oleh mata biasa, karena ia hanya muncul saat fajar pertama menyentuh cakrawala — selama tepat satu jam — lalu lenyap kembali seperti mimpi yang lupa diingat.
Rumah-rumahnya terbuat dari batu kristal yang berpendar lembut, jalanannya berlapis pasir perak, dan jam-jam besar menggantung di udara, berdetak tanpa suara. Waktu di sana tidak berjalan lurus seperti di dunia lain. Ia melingkar, berputar, bahkan kadang berhenti.
Di kota itu tinggal seorang gadis bernama Mara.
Ia bukan penyihir, bukan putri, dan bukan pula pahlawan. Ia hanya seorang penjaga jam — seseorang yang bertugas memastikan setiap jam di kota tetap berdetak. Setiap pagi, saat kota muncul, Mara berjalan menyusuri jalanan sunyi dengan tangga kecil dan kunci perak di pinggangnya.
Ia memutar roda waktu, mengatur detak, dan mendengarkan bunyi halus yang hanya bisa didengar oleh penjaga sepertinya.
Namun suatu hari, ia menemukan sesuatu yang aneh.
Salah satu jam besar di alun-alun utama… berhenti.
Tidak melambat. Tidak rusak.
Benar-benar berhenti.
Dan ketika jam itu berhenti — seekor burung di udara membeku di tempatnya, air mancur berhenti mengalir, bahkan bayangan pun tak bergerak.
Mara menelan ludah.
Ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Ia mencoba memutar roda jam — tetapi kuncinya tak masuk. Seolah waktu menolak disentuh.
Di dasar jam, ia menemukan sebuah ukiran kecil:
“Waktu hilang di tempat ia dilupakan.”
Mara tahu ini bukan sekadar kerusakan. Ini teka-teki.
Dan jika satu jam berhenti… yang lain bisa menyusul.
Jika semua berhenti…
Kota Arkadira akan lenyap selamanya.
Perjalanan Dimulai
Keesokan harinya, Mara meninggalkan tugas rutinnya dan membawa hanya tiga benda:
kunci peraknya
kompas tua yang menunjuk arah waktu (bukan utara)
dan buku catatan kosong
Kompas itu bergetar, jarumnya berputar, lalu menunjuk ke luar kota — menuju kabut putih di batas dunia.
Tak ada penjaga jam yang pernah pergi sejauh itu.
Namun Mara melangkah juga.
Kabut terasa dingin seperti ingatan lama. Saat ia keluar darinya, dunia berubah: hutan tinggi menjulang, daun-daunnya berkilau seperti kaca, dan suara detak samar terdengar dari kejauhan.
Ia mengikuti suara itu hingga menemukan seorang lelaki tua duduk di akar pohon raksasa.
“Ah,” kata lelaki itu tanpa menoleh, “penjaga waktu datang juga.”
Mara terkejut.
“Bagaimana kau tahu siapa aku?”
Lelaki itu tersenyum.
“Karena jam-jam mulai berhenti.”
SUARITOTO- Ia menjelaskan bahwa waktu bukan hanya diatur — ia juga dipelihara oleh kenangan. Ketika suatu tempat dilupakan, waktunya melemah.
“Jam yang berhenti,” katanya, “terhubung pada sesuatu yang telah dilupakan sepenuhnya.”
“Bagaimana memperbaikinya?” tanya Mara.
“Temukan yang hilang. Ingat kembali. Itu saja.”
“Tidak terdengar mudah.”
“Memang tidak.”
Lembah Kenangan
Kompas Mara membawanya ke lembah sunyi, penuh bangunan runtuh. Tak ada suara, tak ada jejak kehidupan.
Namun saat ia menyentuh tanah — bayangan masa lalu muncul.
Anak-anak berlari.
Orang-orang tertawa.
Lampu menyala di malam hari.
Sebuah desa pernah hidup di sana.
Mara menyadari — inilah yang dilupakan.
Ia duduk, membuka buku catatannya, dan mulai menulis semua yang ia lihat: rumah, suara, warna langit, tawa orang-orang.
Saat ia menulis, bayangan menjadi lebih terang.
Udara bergetar.
Dan dari kejauhan…
Detak jam terdengar kembali.
Kompasnya bersinar.
Jam pertama terselamatkan.
Harga Sebuah Ingatan
Namun perjalanan berikutnya lebih sulit.
Ia menemukan tempat lain yang dilupakan — sebuah menara di tengah lautan pasir hitam. Tapi di sana tidak ada bayangan, tidak ada sisa kenangan.
Kosong.
Benar-benar kosong.
Mara berlutut, bingung.
Bagaimana mengingat sesuatu yang tak menyisakan jejak?
Ia menutup mata.
Lalu ia melakukan satu hal nekat.
Ia menciptakan kenangan baru.
Ia membayangkan menara itu penuh cahaya. Orang-orang membaca di dalamnya. Lentera menyala. Tawa bergema.
Ia menulisnya.
Tangannya gemetar — karena ia tak tahu apakah waktu menerima imajinasi sebagai ingatan.
Lalu…
Tanah bergetar lembut.
Detak kedua kembali.
Mara tersenyum lega — sebelum menyadari rambutnya berubah sedikit memutih.
Ia tidak hanya memulihkan waktu.
Ia menukar sebagian waktunya sendiri.
Kebenaran Penjaga Waktu
Saat akhirnya kembali ke Arkadira, jam-jam berdetak normal kembali. Kota muncul lebih terang dari sebelumnya.
Namun lelaki tua menunggunya di gerbang kabut.
“Kau mengerti sekarang?” tanyanya.
Mara mengangguk pelan.
Menjaga waktu bukan hanya memutar roda.
Itu berarti menjaga cerita, kenangan, dan makna — bahkan jika harus memberi sebagian dari dirinya.
“Apakah ini akan terjadi lagi?”
“Selalu.”
“Dan aku harus pergi lagi?”
Lelaki itu tersenyum.
“Itulah tugasmu.”
Epilog
Sejak hari itu, Mara tak hanya berjalan di jalan kristal setiap fajar.
Kadang ia menghilang ke kabut, mencari tempat yang dilupakan dunia.
Rambutnya perlahan memutih, bukunya semakin tebal, dan detak jam kota tetap hidup.
Karena selama ada seseorang yang mengingat —
waktu tidak akan benar-benar hilang.
Dan di setiap fajar yang sunyi, jika kau mendengarkan baik-baik…
Mungkin kau akan mendengar detak lembut dari kota yang muncul hanya satu jam —
dijaga oleh seorang gadis yang menukar waktunya agar dunia tidak kehilangannya.
Penjaga Waktu dari Kota yang Hilang — Bagian 2
Fajar datang seperti biasa.
Kota Arkadira muncul dari kabut, kristalnya berkilau lembut, dan jam-jam besar kembali berdetak selaras. Namun bagi Mara, semuanya terasa berbeda. Ia kini tahu bahwa setiap detak memiliki harga, dan setiap perjalanan meninggalkan jejak pada dirinya.
Rambut putih tipis di pelipisnya ia sembunyikan di balik tudung. Buku catatannya semakin tebal, penuh kisah tempat-tempat yang nyaris hilang dari dunia.
Pagi itu, saat ia memeriksa jam di menara utara, kompas waktunya bergetar lebih kuat dari biasanya.
Jarumnya berputar liar.
Tidak menunjuk satu arah.
Melainkan… banyak arah sekaligus.
Mara mengernyit.
“Ini belum pernah terjadi.”
Lalu satu per satu jam di sekitarnya mulai berdetak tidak serempak. Tidak berhenti — tapi tidak sinkron. Ada yang terlalu cepat. Ada yang melambat. Ada yang seolah mundur.
Waktu tidak hilang.
Waktu kacau.
Retakan dalam Detak
Mara segera menembus kabut batas kota. Kali ini dunia di luar terasa berbeda — udara berat, suara detak saling bertabrakan seperti gema yang tidak cocok.
Kompas akhirnya berhenti di sebuah dataran luas penuh pecahan kaca berkilau.
Saat ia melangkah, ia menyadari itu bukan kaca.
Itu potongan waktu.
Fragmen momen:
seseorang tertawa tanpa suara
daun jatuh berulang-ulang
bayangan berlari tanpa tubuh
Di tengah dataran berdiri sosok tinggi berjubah gelap.
“Jadi kau yang memperbaikinya,” katanya.
Mara menegang.
“Siapa kau?”
“Aku tidak merusak waktu,” jawabnya santai. “Aku membebaskannya.”
Sosok itu mengaku sebagai mantan penjaga — seseorang yang lelah melihat waktu mengikat segalanya dalam satu alur.
“Bukankah lebih indah jika semua kemungkinan terjadi sekaligus?” katanya.
Mara menatap pecahan waktu di sekelilingnya.
Indah, memang.
Namun kosong.
Tak ada arah. Tak ada cerita.
“Tanpa urutan,” jawab Mara pelan,
“kenangan tak berarti. Hidup tak punya makna.”
Sosok itu tertawa kecil.
“Maka buktikan.”
Ia menghilang, meninggalkan kekacauan.
Menyatukan yang Terpecah
Mara berlutut, memegang salah satu pecahan waktu. Dalam kilauannya, ia melihat momen kecil — seorang anak memeluk ibunya.
Ia membuka buku catatannya.
Namun kali ini menulis saja tidak cukup.
Ia harus memilih urutan.
Satu per satu ia mengatur pecahan:
tawa setelah tangis,
pagi setelah malam,
perpisahan sebelum pertemuan kembali.
Setiap susunan membuat detak dunia di sekitarnya lebih stabil.
Namun pekerjaannya tidak mudah. Ada ribuan fragmen. Setiap pilihan terasa berat, karena berarti mengabaikan kemungkinan lain.
Semakin lama ia bekerja, semakin pucat wajahnya.
Waktu pribadinya kembali terkikis.
Namun akhirnya…
Fragmen terakhir menyatu.
Gelombang lembut menyapu dataran.
Detak menjadi selaras.
Konsekuensi
Saat Mara berdiri, sosok berjubah muncul lagi.
Ia tidak tampak marah — hanya penasaran.
“Kau memilih keteraturan.”
“Aku memilih cerita,” jawab Mara.
Sosok itu mengamati perubahan pada dirinya — rambut yang semakin putih, langkah yang lebih lambat.
“Berapa lama kau bisa terus membayar harga itu?”
Mara terdiam sejenak.
Lalu tersenyum kecil.
“Selama waktu masih membutuhkanku.”
Sosok itu tidak menjawab. Ia memudar seperti bayangan.
Namun sebelum hilang, ia berkata:
“Kita akan bertemu lagi, Penjaga.”
Kembali ke Arkadira
Saat Mara kembali, jam-jam kota berdetak lebih tenang dari sebelumnya.
Ia berjalan melalui jalan kristal, mencatat perjalanannya, menambahkan halaman baru ke bukunya.
Kini ia mengerti:
Menjaga waktu bukan hanya menyelamatkan yang hilang.
Kadang ia harus menjaga keseimbangan antara kemungkinan dan kepastian.
Dan itu adalah tugas tanpa akhir.
Malam sebelum kota lenyap kembali, Mara berdiri di alun-alun, mendengarkan detak serempak di sekelilingnya.
Ia tahu suatu hari nanti waktunya sendiri akan habis.
Namun hingga saat itu tiba —
ia akan terus melangkah ke kabut,
mencari detak yang tersesat,
dan menuliskannya agar dunia tidak lupa.
π Situs Game Online Terbesar & Terpercaya SERVER THAILAND


Tidak ada komentar:
Posting Komentar