Jumat, 16 Januari 2026

Aurelie Moeremans Ingatkan Publik Jangan Bully Karakter di Broken Strings, Apalagi Cuma dari Menebak

 

Aurelie Moeremans kembali mengingatkan tujuan awal penulisan Broken Strings. Bukan untuk menghakimi, atau mengeroyok.

 

BERITA,NESIA       

Jakarta - Memoar yang ditulis Aurelie Moeremans, Broken Strings, sudah beberapa waktu belakangan menjadi buah bibir. Hanya saja, topik pembicaraan warganet tampaknya melebar, tak hanya soal child grooming yang disebutkan Aurelie dalam bukunya. Melainkan juga topik lain, salah satunya bullying, yang menyeret nama seorang artis papan atas Tanah Air. 


Ternyata Aurelie Moeremans ikut gerah melihat perkembangan ini. Istri Tyler Bigenho tersebut membuat sebuah permintaan khusus di kanal broadcast Instagram mengenai Broken Strings. 


"Please ya teman-teman 🤍Jangan membully atau menyerang karakter di Broken Strings, apalagi kalau cuma berdasarkan tebakan. Belum tentu benar, dan jujur aku ga enak bacanya. Kasihan!" tulis Aurelie dalam unggahannya.


p>Ia melanjutkan, "Fokus ceritanya bukan ke sana, tapi ke pengalaman dan pesan yang ingin aku sampaikan.Kalau ada yang mengaku sendiri sebagai karakter tertentu, itu urusan masing-masing.Tapi kalau hanya menebak-nebak lalu kalian menyerang, please jangan." 

Pesan yang sama ia sampaikan di akun Threads terverifikasi miliknya. Bintang film Story of Kale: When Someone's in Love ini menambahkan, bahwa  ia sendiri merasa jengah membaca spekulasi publik yang meliar. 

"Banyak asumsi di luar sana yang belum tentu benar, dan jujur aku ga enak bacanya," kata dia.

Aurelie Moeremans: Bukan untuk Menghakimi, apalagi Mengeroyok!

Ia kembali mengingatkan tujuan awal penulisan Broken Strings.


"Fokus dari cerita ini bukan untuk mencari siapa siapa di dunia nyata, bukan untuk menghakimi, apalagi mengeroyok. Fokusnya adalah pengalaman, luka, dan proses penyembuhan yang aku bagikan dengan sangat jujur," kata dia.


"Kalau ada orang yang mengaku sendiri sebagai karakter tertentu, itu urusan masing-masing ya, kalian bebas berpendapat soal itu.Tapi kalau hanya menebak-nebak dan lalu menyerang, plis jangan," ia kembali mengulang pesan serupa.


Sebagai penutup, ia menulis, "Let’s keep this space kind, aman, dan penuh empati 🤍."

Proses Penulisan Broken Strings

Diberitakan sebelumnya, Aurelie Moeremans sudah pernah menyebutkan alasannya menulis Broken Strings, sekaligus proses penulisan Broken Strings. 


"Proses penulisannya sebenarnya cukup panjang. Ceritanya sudah aku simpan di kepala dan hati bertahun-tahun, tapi menulisnya sendiri aku lakukan secara intens dalam beberapa bulan," ujar Aurelie Moeremans melalui sambungan WhatsApp, Rabu (14/1/2026). 


"Aku nulis pelan-pelan, satu per satu, karena aku ingin setiap bagian ditulis dengan jujur dan hati-hati, bukan sekadar cepat selesai," Aurelie Moeremans menambahkan.

Alasan Menulis, dan Mempublikasikan Broken Strings

Ia mengungkapkan bahwa awalnya tulisan tersebut hanyalah bentuk pelampiasan atas kejujuran terhadap dirinya sendiri.


"Awalnya bukan untuk konsumsi publik, aku menulis sebagai bentuk kejujuran ke diri sendiri. Dulu, waktu aku masih kecil dan mencoba bersuara, responsnya justru menyakitkan, jadi ada trauma untuk bercerita," ujarnya. 


Namun, pada akhirnya wanita 32 tahun ini memilih untuk membuka kisahnya pada dunia. 


"Seiring waktu, aku sadar banyak perempuan dan orang tua mengalami hal serupa dan juga merasa sendirian. Dari situ aku merasa, mungkin ceritaku bisa jadi teman buat mereka," Aurelie menambahkan.

Aurelie Moeremans Ingatkan Publik Jangan Bully Karakter di Broken Strings, Apalagi Cuma dari Menebak


Aktris Aurelie Moeremans angkat bicara terkait respons publik terhadap karakter yang ia perankan dalam serial Broken Strings. Lewat sejumlah pernyataan, Aurelie mengingatkan penonton agar tidak terburu-buru memberikan penilaian, apalagi sampai melakukan perundungan terhadap karakter hanya berdasarkan potongan adegan atau asumsi pribadi.


Menurut Aurelie, sebuah karakter dalam karya fiksi memiliki latar belakang cerita dan perkembangan emosi yang tidak bisa disimpulkan hanya dari satu atau dua episode. Ia menegaskan bahwa setiap karakter diciptakan dengan lapisan konflik dan alasan yang akan terungkap seiring berjalannya cerita.


“Kadang penonton baru lihat sedikit, langsung menyimpulkan macam-macam. Padahal ceritanya belum selesai,” ujar Aurelie. Ia berharap publik bisa menonton Broken Strings secara utuh sebelum memberikan komentar yang bersifat menghakimi.


Aurelie juga menyoroti fenomena bullying di media sosial yang kerap menyasar karakter fiksi, namun berujung menyerang pemainnya secara personal. Menurutnya, hal tersebut tidak sehat dan dapat berdampak pada kondisi mental para aktor.

“Yang diserang itu kadang bukan karakternya lagi, tapi orangnya. Padahal kami hanya menjalankan peran sesuai skenario,” katanya.


Serial Broken Strings sendiri mengangkat kisah hubungan manusia yang kompleks, penuh luka emosional, dan konflik batin. Karakter yang diperankan Aurelie digambarkan memiliki sisi abu-abu, tidak sepenuhnya benar atau salah, yang justru menjadi kekuatan cerita tersebut.


Aurelie berharap penonton dapat melihat serial ini dengan sudut pandang yang lebih terbuka dan empati. Ia juga mengajak publik untuk lebih bijak dalam berkomentar di media sosial, serta membedakan antara karakter fiksi dan pribadi aktor di dunia nyata.


“Kalau tidak suka karakternya, itu wajar. Tapi jangan sampai menyakiti orang lain hanya karena asumsi,” tutup Aurelie.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar